Langsung ke konten utama

Postingan

Muhasabah Diri

Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha  فاماالانسان اذا ما ابتلىه ربه فاكرمه ونعمه، فيقول ربي اكرمن Ada sebagian manusia kalau ketika dilapangkan rizkinya dia berkata (ربي اكرمن) Tuhan sedang memuliakan aku. Kalau rumahnya besar, anaknya baik-baik, duitnya banyak, kerjaanya ok dia katakan Tuhan sedang memuliakan aku. و اما اذا مابتلىه فقدر عليه رزقه، فيقول ربي اهانن Tapi ketika dia kena PHK kemudian dia susah kena sakit dia katakan (ربي اهانن) Tuhan sedang menghinakan aku. (كلا) bukan, bukan begitu cara pandangnya. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, lapang dan sempit, susah, sulit, senang semuanya adalah ujian.  Jadi jangan kita simpulkan dalam pikiran kita ini ada dua kesimpulan. Kalan senang berarti nikmat, kalau susah berarti laknat. Kalau kaya berarti nikmat, kalau miskin berarti laknat. Kalau begitu cara pandang kita. Berarti Nabi Muhammad susah, Abu Jahal Abu Lahab senang. Fir'aun senang, Nabi Musa susah. Berarti kita mengatakan Fir'aun, Abu Lahab dapat nikmat. Nabi Musa, N...

Cerpen - Jheany

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Lamat-lamat kumelirik setiap jengkal dan sudut-sudut lorong yang kulalui. Tempat remang-remang seperti ini sering kudapati dalam film-film. Namun kini aku benar-benar ada di dalamnya. Gamang aku. “Lu pada sering ke sini?” “Yaa seminggu sekali lah Ren, kalau setiap hari ya bangkrut lah kita. Mau kasih makan apa anak bini hahahaha”. Tempat karaoke macam ini ternyata mempunyai banyak room yang bervariasi vasilitasnya sesuai harga yang telah disematkan. Dari harga yang paling rendah sampai yang paling tinggi.  Kami memilih room kelas tengah. Dua layar TV kanan kiri yang menampilkan video klip dan lirik lagu yang kami nyanyikan dan satu layar TV di tengah untuk memilih lagu yang akan kami dendangkan nantinya. Setengah jam berlalu. Meja sudah penuh dengan botol-botol minuman juga cemilan-cemilan macam kentang goreng dsb. Aku hanya ingin bernyanyi saja, tak ada melintas dalam benakku untuk menuangkan bahkan meneguk minuman yang sedari tadi diminu...

Puisi : Seringai

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Jauh di ujung burit pantai sana, di bawah pohon cemara. Bercokol sekelompok anak muda. Bersenda gurau terkesan mesra. Aku tahu apa yang sedang mereka nanti, selaras denganku. Menunggu senja tenggelam.  Mungkin rekaan kita sekilas setara, namun raut kita sedikit berbeda. Seringai masih berkenan singgah di paras mereka. Tidak terhadapku, ia minggat tanpa pamit. Enggan meminta persetujuan dariku. Banyuwangi, penghujung 2020

Puisi : Api Dalam Sekam

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Elok nian peringaimu. Takjub aku dibuatnya. Acap kali kau berperan, bermuluk-muluk impaknya. Muak, jelak aku. Api padam puntung berasap. Celotehmu bergajulmu. Sudah, hentikan dagelanmu! Marem aku kesemsem. Sesekali tolehlah gunung! Jangan melulu menjuling lembah. Tidurlah! Mendengkur yang keras! Mungkin adam bisa lebih jenjam. Sejak lama aku tahu maksud dan tujuanmu. Cukup enteng, sekedar membungkus api dalam sekam. Banyuwangi, 30 Desember 2020

Cerpen : Ati Ampela Ayam Favorit Ayah

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Hujan membasuh Bumi Blambangan sedari sore. Mendung tampak pekat mulai siang hari sampai pada akhirnya benar-benar jatuh mengguyur. Kaca mobil Pak Fathi buram, suara wiper yang menyeka menghasilkan irama tersendiri. Sengaja Pak Fathi tidak memutar lagu apapun dari tape musik mobilnya, ia hanya ingin menikmati perjalanannya sore itu.  "Ayah udah sampai mana? Hujannya awet dari tadi ngak reda-reda". Suara Bu Indy samar-samar bersinggungan dengan suara hujan. "Baru aja keluar dari kantor Ma, ini Ayah lagi di Bundaran Tugu Pahlawan. Paling setengah jam lagi sampai rumah. Oh iya Ma, ati ampela ayam favorit Ayah udah siap kan? Hehe". Cengengesan Pak Fathi sembari menilik irama wiper mobilnya yang naik turun. "Udah dong, ini Mama lagi di dapur". "Wah pantesan aromanya kecium sampai sini, udah keroncongan banget nih perut Ayah hahaha. Yaudah Ma, Ayah mau fokus nyetir. Salam buat Genta sama Wati, bilangin jangan ada yang n...

Puisi : Hujan Kala Senja

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Aku melangkah ke dipan. Bunga di pekarangan rumah tadi memanggilku. Memberi tahu, hujan sebentar lagi turun. Aku ragu, tapi senja membenarkan itu. Iya, siluetnya terlihat pudar. Samar oleh mendung yang mulai berdatangan. Terkesan singkat senja kala itu, serupa cintamu kemarin hari. Tak sepadan dengan cintaku yang sebanyak bulir air hujan nun berjatuhan. Banyuwangi, 26 Desember 2020

Cerpen : Harta Warisan Ayah

Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha "Nulis lagi kamu Iz?" "Ngak Ma, aku nggak nulis" "Jangan bohong kamu! Itu apa buku sama pulpen" Bu Anisa merampas paksa buku tulis dan pulpen Faiz. "Harus berapa kali Mama ngelarang kamu nulis? Kamu sumbat apa telingamu itu Iz? Kamu gk mau nurut sama Mama? Mau jadi apa kamu? Mau jadi penulis? Mau minggat lenyap macam Ayah kamu itu?" Sekelebat kenangan masa lalu melintas di atas kepala Faiz. Kini ia sedang melamun sembari memandangi Sungai Nil dari dalam kamar salah satu Hotel Bintang Lima di dekat Lembah Sungai Nil. Mamanya tidak pernah menyetujuinya untuk menjadi Penulis. Kerap kali Faiz didamprat Mamanya perkara ketahuan sedang menulis seutas puisi atau sekedar mencatat catatan harian. Keluarga mereka mempunyai kenangan pilu perihal seorang Penulis. Ayah Faiz adalah seorang Cerpenis salah satu Koran Nasional. Dengan upah honor dari hasil menulis itu Pak Har bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Beliau ...

Puisi : Ketoprak dan Opera

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA #Sajak KETOPRAK DAN OPERA Tentang prasangka, baik ataupun buruk Meski kau rancak didepanku, aku tak tahu menahu dibalik sisi gelapmu Bodoamat ku perihal seniku Cibiran mulutmu itu, bak luapan lumpur lapindo. Panas, tak bisa dibendung, meresahkan pula Cobalah antap, tak akan aku muntab Bukan bongak mu yang ku pinta Bukan belagak mu yang ingin ku jumpa Juga bukan ketoprak ataupun opera Manis mulutmu bercakap seperti sa-utan manisan, di dalam bagai empedu Sudah puas bermulut di mulut orang?  Anguk bukan, geleng ia Cakapmu berdegar-degar, tumitmu diketing Banyuwangi, 12 September 2020 #ODOP #Day5 #Bayarutang

Coretan : Punguk Merindukan Bulan

 Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Selamat pagi, siang, malam. Dimanapun kalian berada. Waktu indonesia barat, timur, utara dsb. Sepersekian detik sebelum ini aku masih belum tahu apa yang ingin aku tulis. Bahkan sampai detik ini pun aku masih linglung. Pincang, seperti layangan dengan teraju timpang. Aku tak seimbang. Wkwkwk, kok jadi ngelantur sih.  One Day One Post atau ODOP memberiku derma dipekan pertama. Awal yang menyedihkan, aku berjalan terseyok-seyok, dibuntuti hutang di awal pekan. Bodoh, mengangap sepele, keteteran juga akhirnya. Konsisten, sulit. Tapi yang sulit belum tentu tidak bisa. Seseorang yang profesional itu mengakhiri apa yang dimulai nya. Menulis, kesendirian, kemalasan, sudah menjadi bumbu sejak lama. Mewarnai setiap detik yang berdetak.  Mencoba untuk profesional, berani menyematkan nama dalam fraksi ini, bagak jua untuk rampung dan adiluhung.  Bagai Punguk merindukan bulan. Singkat cerita aku punya blog ini udah tujuh tahun lama nya. Tuju...

Puisi : Bagaimana Jika?

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA #sajak BAGAIMANA JIKA,,, Kerap kali, ku berdiri dalam sepi. Diam, tak satupun menyapaku. Karena memang tak ada siapapun diruang itu.  Aku berdiri di depan mirat. Hening. Santiran diriku pun dingin. Aku memandangnya, dia balik memandangku. Kuamati diriku lamat-lamat. Kutanamkan dalam sukmaku, INI AKU.  Kucoba merangkai huruf demi huruf, untuk menjadi namaku. Aku mengais nanarku yang menjalar. Mulai meradang. Aku menerka, bagaimana kalau aku bukan aku. Dan aku adalah orang lain. Akankah semuanya sama? Jikalau kau menjadi aku, dan apabila aku menjadi kamu. Dan semua itu menjadi asing. Detak jantung ku ayal. Nadi ku mengalir deras. Aku mencoba mengedipkan mata, menghirup senyawa udara. Organ tubuh ku masih berkerja dengan baik. Bagaimana jika tidak? Feel apa yang kurasa ketika raga ini sudah tidak bernyawa. Ketika semua tindakan aku tak lagi kuasa? Banyuwangi, 10 September 2020 #ODOP #Day4

LIMA ATURAN POE, CERPEN CELANA YANG KETAT

 Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Jika anda kepingin menulis cerpen, baik juga belajar pada  Edgar Allan Poe . Ia membuat lima aturan mengenai cerpen, yang sampai sekarang pun masih dianggap berlaku. 1. Cerpen harus pendek Artinya, cukup pendek untuk dapat dibaca dalam sekali duduk. Cerpen bisa rampung dibaca sambil menunggu bis atau kereta-api, sambil antri karcis bioskop sampai didepan loket, atau sambil nongkrong di wc -  na'udzubillahi min dzalik. 2. Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik punya ketunggalan pikiran dan action yang bisa dikembangkan lewat sebuah garis yang langsung dari awal sampai akhir. Dalam sebuah cerpen memang tak cukup tempat untuk garis-garis sampingan, atau peristiwa-peristiwa yang bunga rampai. Itu hak yang diberikan pada novel. Cerpen tidak kebagian hak yang seperti itu. 3. Cerpen harus ketat dan padat . Cerpen harus ta...

DWI MASA TRANSISI, DALAM EKSPEDISI

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Gugusan Sajak Masa transisi masih berlarut-larut. Keadaan masih juga belom stabil. Pancaroba tak juga usai. Ancang-ancang masih ku rancang. Masa depan yang cerah menungguiku di ujung jauh persimpangan jalan sana. Selamat menikmati perjalanan, kencangkan sabuk pengaman! Dengan izin Tuhan kita selamat sampai tujuan. Amin. Aku Rindu Setahun sudah lama nya. Jemari ku tak pernah menjamah yang namanya menggurat kata. Menggariskan sebuah petuah, menyematkan seuntai gubahan. Semua itu mendadak asing. Aku seakan tak mengenal bagian dari tulang belulangku yang menyongsongku untuk tetap berdiri tegak.  Sedari itu langkahku lunglai. Tak tahu arah, tak tahu tujuan. Semuanya tiba-tiba kosong. Setiap jejak langkahku yang terhempas dibumi yang keras ini, tak menyisakan secuil harapan yang ku iming-imingi sedari dulu.  Setiap hembusan napas juga angin udara yang menerpa wajahku juga rambutku. Semua sisi, semua pihak membuat kongsi untuk menghardikku. Aku p...

ADAPTASI KEBIASAAN BARU BIDANG LITERASI

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Pertama kali yang ada dalam benak ku ketika menceburkan diri dalam dunia ini memang sekedar hobi. Hatiku memanggil-manggil untuk menulis. Perasaan lapang, bahagia itu muncul ketika aku selesai menyelesaikan sebuah tuliasan. Entah dari mana asalnya. Dulu ketika masih duduk di bangku SD, aku pernah didelegasikan oleh sekolahanku untuk mengikuti lomba menulis cerpen se-Jawa Timur. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Seketika itu aku mulai membaca buku-buku cerita rakyat yang ada di perpustakaan sekolah. Disitu aku menemukan gairah yang membuatku terus ingin melahap buku-buku cerita yang ada di perpustakaan sekolahan ku itu. Feel yang kudapatkan ketika membaca adalah seakan-akan gambaran tentang skenario cerita itu melayang-layang diatas kepalaku. Sampai pada akhirnya, bertahun-tahun  setelah itu. Ketika aku sudah menjadi Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, tepatnya kelas 6. Aku mendapat ujian dari Allah SWT, diskors selama satu sem...

YUK, NULIS CERPEN YUK oleh Mohammad Diponegoro

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA. Ada banyak sekali buku-buku panduan menulis. Dari menulis sastra, karya ilmiah, dll. Itu tergantung minat dan passion anda. Kalau saya sendiri lebih minat pada kepenulisan sastra. Dunia literasi ini bagai telah menyeretku, melontar-lontarkan perasaanku. Tampa bisa ku elakkan. Sastra sendiri dibagi lagi menjadi beberapa kategori. Tapi untuk kali ini saya ingin merangkum beberapa poin penting dari buku karangan Mohammad Diponegoro , dengan judul "Yuk, nulis cerpen yuk". Tujuan saya sendiri mempublikasikannya adalah untuk memudahkan ketika kembali ingin mencari refrensi dan sumber dari buku ini,tampa harus membolak-balik buku itu, dan membaca garis-garis coretanku satu persatu. Suatu saat jika bukunya hilang kan masih ada catatannya diinternet, iya gak? Dunia maya ini bisa menjadi tempat kita menyimpan data apapun itu dengan sangat aman, tanpa takut hilang. Baik itu moment-moment seperti foto, video, atau bahkan catatan kita. Langsung s...

PARADOKS ETNIK PUJANGGA

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Selamat pagi, siang, sore, dan malam. Dimanapun anda berada, bagaimanapun keadaan hati anda, apapun yang anda rasakan, salam hangat dari lubuk jiwa saya yang paling dalam. Langit, angin, awan, dunia ini, semua berjalan sedemikian rupa. Kehidupan ini akan terus berlangsung, waktu akan terus berjalan. Sampai detik ini, saya masih berkesempatan untuk sekedar menghembuskan napas. Menghirup oksigen dan menghempaskan karbondioksida dengan lancar tanpa sedikitpun ganggunan. Dalam hari yang masih terus bergulir, belum juga kudapati makna arti kehidupan yang aku cari. Aku sedang berkelana, mencari jati diri. Tepat tahun ini juga aku memasuki kepala dua. Sejauh ini yang telah kutempuh. Aku masih kabur dan buram akan masa depan yang akan aku hadapi kelak. Dengan segenap kegundahanku yang bergejolak. Atas nama waktu-waktu ku yang jauh telah tertinggal dibelakang. Juga masa-masaku yang belum kujemput digaris kedepan. Untuk kesekian kalinya kupersembahkan...

CATATAN AKHIR MADRASAH

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Kita akan menjadi teman sampai menua dan pikun, lalu kita akan menjadi teman baru lagi. Terlantu-lantu kalimat itu terucap dari mulutku. Kita pernah bersama disini. Menjalani hari pernuh warnai-warni. Mungkin tak seindah pelanggi, namun kita pernah bermimpi. Wkwkwk, malah nyanyi aku. Emang lagu itu yang pas, coba deh dengerin. Tipe X-Kamu ngak sendirian. Disini kita mulai cerita, disini juga aku ingin kita menutup cerita. Selayaknya catatan akhir sekolah. Yah meskipun udah 6 tahun yang lalu, hahaha. Setidaknya masih ada coret-coret kata yang sedikit banyak bisa menggingatkan kita tentang seberkas memori silam. Catatan ini sama sekali tidak lengkap. Disisi suasana saat itu aku sendiri lagi nahan emosi yang mekuap-luap, karena kaliah telah mengguji kesabaranku sampai batas maksimum. Ditambah lagi tidak semua pungawa kita hadir dalam acara itu. Tapi aku yakin, waktu yang teramat sangat singkat itu telah mewakili sebagian besar dari apa yang a...

PUING RERUNTUHAN KRAMAT TUNGGAK

PUING RERUNTUHAN KRAMAT TUNGGAK Najib Fachruddin Thoha Sejak kawasan pelacuran  Kramat Tungak ditutup pada tahun 1999, bertebaran cafe-cafe baru disekitar wilayah Jakarta Islamic Center. Di situ dapat dijumpai wanita-wanita berdandan menor bercengkrama menunggu malaikat yang diutus tuhan untuk menyelamatkan hidup mereka. Sesekali mereka menggoda lelaki yang lalu lalang. Menawarkan minuman dan kepuasan setelah ada kesepakatan harga. Tak usah risau mencari tempat melampiaskan hasrat. Tinggal menuju hotel-hotel kecil yang biasa di sewa short time. Tidak jauh, masih disekitar Jl Kramat Jaya. Cukup 5 menit untuk menuju hotel-hotel itu dengan bersepedah motor. Ini pukul 2 dini hari, sudah larut malam. Fina masih duduk termangu menungu lelaki hidung belang yang tak kunjung datang. Tidak seperti biasannya, malam itu terlampau sepi. “Kok sepi banget ya malam ini.” Ketus Fina. “Lagi disekap kali sama istri-istrinya” timpal salah seorang dari mereka. “Atau malah gk dapet alasan...

MACAM-MACAM MAJAS, PENGGERTIAN DAN PENGGUNAAN NYA

Di poskan oleh-NAJIB FACHRUDDIN THOHA Salam literasi, selamat pagi, siang, malam, dibelahan bumi sebelah manapun anda berada sekarang. Dikesempatan ini gue ingin membahas beberapa macam majas dan contoh penggunaan nya. Tentu ketika anda ingin menggarang sebuah karya baik itu puisi, cerpen, bahkan novel sekalipun. Majas atau gaya bahasa ini amat sangatlah dibutuhkan. Mungkin bila loe tidak pakek majas karangan loe bakalan hambar rasannya. Kaya masakan tanpa dikasih bumbu. Jangankan tertarik untuk memakannya, mencicipinya saja ogah. Sama halnya karangan, jangankan tertarik untuk menyeselasikan membaca sampai terakhir, baru baca paraghrap pertama udah skip deh kayaknya. Buat lu yang mau nge gombalin pacar, coba deh makek majas, bakalan tambah sayang pacar lu, langsung ngajak ke pelaminan mungkin. wkwkwk.  Sebenarnya majas ini sudah dipeljari semenjak kita duduk dibangku sekolah dasar. Mata pelajaran Bahasa Indonesia. Cuman mungkin waktu itu umur kita masih a...