Langsung ke konten utama

ADAPTASI KEBIASAAN BARU BIDANG LITERASI

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA

Pertama kali yang ada dalam benak ku ketika menceburkan diri dalam dunia ini memang sekedar hobi. Hatiku memanggil-manggil untuk menulis. Perasaan lapang, bahagia itu muncul ketika aku selesai menyelesaikan sebuah tuliasan. Entah dari mana asalnya. Dulu ketika masih duduk di bangku SD, aku pernah didelegasikan oleh sekolahanku untuk mengikuti lomba menulis cerpen se-Jawa Timur. Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional. Seketika itu aku mulai membaca buku-buku cerita rakyat yang ada di perpustakaan sekolah. Disitu aku menemukan gairah yang membuatku terus ingin melahap buku-buku cerita yang ada di perpustakaan sekolahan ku itu. Feel yang kudapatkan ketika membaca adalah seakan-akan gambaran tentang skenario cerita itu melayang-layang diatas kepalaku.

Sampai pada akhirnya, bertahun-tahun  setelah itu. Ketika aku sudah menjadi Santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, tepatnya kelas 6. Aku mendapat ujian dari Allah SWT, diskors selama satu semester dan menggulang study ku tahun depan. Dari kejadian itu aku bertemu dengan Mbak Hiday di Sanggar Caraka. 

Dari pertemuan itu gairah ku untuk terus menulis kian membuncah. Pertemuan demi pertemuan ku ikut sertai, sedikit demi sedikit aku berusaha menyerap materi-materi yang diberikan oleh para sifu-sifu dan suhu disana. Hingga akhirnya aku bisa menerbitkan buku solo ku yg pertama, himpunan puisi yang berjudul "Masa Transisi". Beberapa kali sajak ku juga sempat tersemat dirubrik puisi Jawa Pos.

Kian hari semangatku terus terkikis, sampai pada detik ini aku udah ngak pernah lagi untuk sekedar menyempatkan waktu untuk menggurat kata-kata dan menyusun sebuah kalimat. Aku buntu, sampai pada titik gelap. Memang musuh terbesar dari seorang ketika menulis adalah kesendirian dan kebosanan yang terus menghantui dan menghasut untuk berhenti menulis. Dan dengan bodohnya aku terhasut dengan amat sangat mudah. Rencana-rencana besar yang telah kususun untuk buku-buku yang ingin ku tulis seakan patah harapan.

Memasuki masa pandemi terkait Covid-19. Semua lini kehidupan berubah drastis. Kegiatan belajar menggajar yang dulunya dapat bertatap muka secara langsung antara guru dengan murid kini engan untuk terjadi. Semua mendadak menjadi virtual, secara online, daring. Kegiatan-kegiatan seminar yang kerap kali diadakan digedung-gedung megah pun kini tak tercium lagi, lebih banyak webinar-webinar yang diselenggerakan oleh beberapa lembaga. Tidak sampai disitu, kegiatan sehari-sehari pun serasa seakan-akan terbatasi. Kegiatan diluar rumah teramat diminalisir. Kalau dikalkulasikan, seseorang lebih banyak rebahan diranjangnya dibanding dengan beraktivitas diluar rumah seperti sebelum wabah Covid -19 ini meluas. 

Tahun kelulusanku pun lebih dikenal dengan angkatan corona. Karena memang kita lulus ditahun dimana wabah corona ini menyerang bumi ini. Planning-planning yang telah kususun bersama temanku-temnaku setelah kelulusan kandas seketika. Dimana-mana lockdown. Sampai pada akhirnya kagiatan hibernasi, mendekam dirumah itu lebih banyak kuisi dengan membaca buku dan menulis beberapa sajak atau pun cerita pendek. Mencoba untuk membangun kebiasaan dan hobiku yang telah lama tertidur. Disana aku mencoba untuk mencari jaringan yang lebih luas dalam dunia kepenulisan ini, dan aku teringat akan komunitas One Day One Post (ODOP) yang sering digunjingkan oleh Mbak Hiday dan juga Suhu-suhu ku yang lain.

Aku memberanikan diri untuk mencoba mendaftarkan diri di komunitas ODOP ini. Di ODOP ini aku berusaha untuk membangkitkan gairah menulisku yang telah padam, tertimbun oleh kemalasanku yang telah menindas-nindas kehormatanku sebagai seorang makhluk ciptaan tuhan yang dibekali dengan hasrat juga akal.


Banyuwangi, 28 Agustus 2020

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen - Jheany

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Lamat-lamat kumelirik setiap jengkal dan sudut-sudut lorong yang kulalui. Tempat remang-remang seperti ini sering kudapati dalam film-film. Namun kini aku benar-benar ada di dalamnya. Gamang aku. “Lu pada sering ke sini?” “Yaa seminggu sekali lah Ren, kalau setiap hari ya bangkrut lah kita. Mau kasih makan apa anak bini hahahaha”. Tempat karaoke macam ini ternyata mempunyai banyak room yang bervariasi vasilitasnya sesuai harga yang telah disematkan. Dari harga yang paling rendah sampai yang paling tinggi.  Kami memilih room kelas tengah. Dua layar TV kanan kiri yang menampilkan video klip dan lirik lagu yang kami nyanyikan dan satu layar TV di tengah untuk memilih lagu yang akan kami dendangkan nantinya. Setengah jam berlalu. Meja sudah penuh dengan botol-botol minuman juga cemilan-cemilan macam kentang goreng dsb. Aku hanya ingin bernyanyi saja, tak ada melintas dalam benakku untuk menuangkan bahkan meneguk minuman yang sedari tadi diminu...

Cerpen : Ati Ampela Ayam Favorit Ayah

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Hujan membasuh Bumi Blambangan sedari sore. Mendung tampak pekat mulai siang hari sampai pada akhirnya benar-benar jatuh mengguyur. Kaca mobil Pak Fathi buram, suara wiper yang menyeka menghasilkan irama tersendiri. Sengaja Pak Fathi tidak memutar lagu apapun dari tape musik mobilnya, ia hanya ingin menikmati perjalanannya sore itu.  "Ayah udah sampai mana? Hujannya awet dari tadi ngak reda-reda". Suara Bu Indy samar-samar bersinggungan dengan suara hujan. "Baru aja keluar dari kantor Ma, ini Ayah lagi di Bundaran Tugu Pahlawan. Paling setengah jam lagi sampai rumah. Oh iya Ma, ati ampela ayam favorit Ayah udah siap kan? Hehe". Cengengesan Pak Fathi sembari menilik irama wiper mobilnya yang naik turun. "Udah dong, ini Mama lagi di dapur". "Wah pantesan aromanya kecium sampai sini, udah keroncongan banget nih perut Ayah hahaha. Yaudah Ma, Ayah mau fokus nyetir. Salam buat Genta sama Wati, bilangin jangan ada yang n...

Muhasabah Diri

Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha  فاماالانسان اذا ما ابتلىه ربه فاكرمه ونعمه، فيقول ربي اكرمن Ada sebagian manusia kalau ketika dilapangkan rizkinya dia berkata (ربي اكرمن) Tuhan sedang memuliakan aku. Kalau rumahnya besar, anaknya baik-baik, duitnya banyak, kerjaanya ok dia katakan Tuhan sedang memuliakan aku. و اما اذا مابتلىه فقدر عليه رزقه، فيقول ربي اهانن Tapi ketika dia kena PHK kemudian dia susah kena sakit dia katakan (ربي اهانن) Tuhan sedang menghinakan aku. (كلا) bukan, bukan begitu cara pandangnya. Kaya dan miskin, sehat dan sakit, lapang dan sempit, susah, sulit, senang semuanya adalah ujian.  Jadi jangan kita simpulkan dalam pikiran kita ini ada dua kesimpulan. Kalan senang berarti nikmat, kalau susah berarti laknat. Kalau kaya berarti nikmat, kalau miskin berarti laknat. Kalau begitu cara pandang kita. Berarti Nabi Muhammad susah, Abu Jahal Abu Lahab senang. Fir'aun senang, Nabi Musa susah. Berarti kita mengatakan Fir'aun, Abu Lahab dapat nikmat. Nabi Musa, N...