Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Puisi : Ketoprak dan Opera

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA #Sajak KETOPRAK DAN OPERA Tentang prasangka, baik ataupun buruk Meski kau rancak didepanku, aku tak tahu menahu dibalik sisi gelapmu Bodoamat ku perihal seniku Cibiran mulutmu itu, bak luapan lumpur lapindo. Panas, tak bisa dibendung, meresahkan pula Cobalah antap, tak akan aku muntab Bukan bongak mu yang ku pinta Bukan belagak mu yang ingin ku jumpa Juga bukan ketoprak ataupun opera Manis mulutmu bercakap seperti sa-utan manisan, di dalam bagai empedu Sudah puas bermulut di mulut orang?  Anguk bukan, geleng ia Cakapmu berdegar-degar, tumitmu diketing Banyuwangi, 12 September 2020 #ODOP #Day5 #Bayarutang

Coretan : Punguk Merindukan Bulan

 Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Selamat pagi, siang, malam. Dimanapun kalian berada. Waktu indonesia barat, timur, utara dsb. Sepersekian detik sebelum ini aku masih belum tahu apa yang ingin aku tulis. Bahkan sampai detik ini pun aku masih linglung. Pincang, seperti layangan dengan teraju timpang. Aku tak seimbang. Wkwkwk, kok jadi ngelantur sih.  One Day One Post atau ODOP memberiku derma dipekan pertama. Awal yang menyedihkan, aku berjalan terseyok-seyok, dibuntuti hutang di awal pekan. Bodoh, mengangap sepele, keteteran juga akhirnya. Konsisten, sulit. Tapi yang sulit belum tentu tidak bisa. Seseorang yang profesional itu mengakhiri apa yang dimulai nya. Menulis, kesendirian, kemalasan, sudah menjadi bumbu sejak lama. Mewarnai setiap detik yang berdetak.  Mencoba untuk profesional, berani menyematkan nama dalam fraksi ini, bagak jua untuk rampung dan adiluhung.  Bagai Punguk merindukan bulan. Singkat cerita aku punya blog ini udah tujuh tahun lama nya. Tuju...

Puisi : Bagaimana Jika?

Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA #sajak BAGAIMANA JIKA,,, Kerap kali, ku berdiri dalam sepi. Diam, tak satupun menyapaku. Karena memang tak ada siapapun diruang itu.  Aku berdiri di depan mirat. Hening. Santiran diriku pun dingin. Aku memandangnya, dia balik memandangku. Kuamati diriku lamat-lamat. Kutanamkan dalam sukmaku, INI AKU.  Kucoba merangkai huruf demi huruf, untuk menjadi namaku. Aku mengais nanarku yang menjalar. Mulai meradang. Aku menerka, bagaimana kalau aku bukan aku. Dan aku adalah orang lain. Akankah semuanya sama? Jikalau kau menjadi aku, dan apabila aku menjadi kamu. Dan semua itu menjadi asing. Detak jantung ku ayal. Nadi ku mengalir deras. Aku mencoba mengedipkan mata, menghirup senyawa udara. Organ tubuh ku masih berkerja dengan baik. Bagaimana jika tidak? Feel apa yang kurasa ketika raga ini sudah tidak bernyawa. Ketika semua tindakan aku tak lagi kuasa? Banyuwangi, 10 September 2020 #ODOP #Day4

LIMA ATURAN POE, CERPEN CELANA YANG KETAT

 Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Jika anda kepingin menulis cerpen, baik juga belajar pada  Edgar Allan Poe . Ia membuat lima aturan mengenai cerpen, yang sampai sekarang pun masih dianggap berlaku. 1. Cerpen harus pendek Artinya, cukup pendek untuk dapat dibaca dalam sekali duduk. Cerpen bisa rampung dibaca sambil menunggu bis atau kereta-api, sambil antri karcis bioskop sampai didepan loket, atau sambil nongkrong di wc -  na'udzubillahi min dzalik. 2. Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik punya ketunggalan pikiran dan action yang bisa dikembangkan lewat sebuah garis yang langsung dari awal sampai akhir. Dalam sebuah cerpen memang tak cukup tempat untuk garis-garis sampingan, atau peristiwa-peristiwa yang bunga rampai. Itu hak yang diberikan pada novel. Cerpen tidak kebagian hak yang seperti itu. 3. Cerpen harus ketat dan padat . Cerpen harus ta...

DWI MASA TRANSISI, DALAM EKSPEDISI

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Gugusan Sajak Masa transisi masih berlarut-larut. Keadaan masih juga belom stabil. Pancaroba tak juga usai. Ancang-ancang masih ku rancang. Masa depan yang cerah menungguiku di ujung jauh persimpangan jalan sana. Selamat menikmati perjalanan, kencangkan sabuk pengaman! Dengan izin Tuhan kita selamat sampai tujuan. Amin. Aku Rindu Setahun sudah lama nya. Jemari ku tak pernah menjamah yang namanya menggurat kata. Menggariskan sebuah petuah, menyematkan seuntai gubahan. Semua itu mendadak asing. Aku seakan tak mengenal bagian dari tulang belulangku yang menyongsongku untuk tetap berdiri tegak.  Sedari itu langkahku lunglai. Tak tahu arah, tak tahu tujuan. Semuanya tiba-tiba kosong. Setiap jejak langkahku yang terhempas dibumi yang keras ini, tak menyisakan secuil harapan yang ku iming-imingi sedari dulu.  Setiap hembusan napas juga angin udara yang menerpa wajahku juga rambutku. Semua sisi, semua pihak membuat kongsi untuk menghardikku. Aku p...