Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

Cerpen - Jheany

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Lamat-lamat kumelirik setiap jengkal dan sudut-sudut lorong yang kulalui. Tempat remang-remang seperti ini sering kudapati dalam film-film. Namun kini aku benar-benar ada di dalamnya. Gamang aku. “Lu pada sering ke sini?” “Yaa seminggu sekali lah Ren, kalau setiap hari ya bangkrut lah kita. Mau kasih makan apa anak bini hahahaha”. Tempat karaoke macam ini ternyata mempunyai banyak room yang bervariasi vasilitasnya sesuai harga yang telah disematkan. Dari harga yang paling rendah sampai yang paling tinggi.  Kami memilih room kelas tengah. Dua layar TV kanan kiri yang menampilkan video klip dan lirik lagu yang kami nyanyikan dan satu layar TV di tengah untuk memilih lagu yang akan kami dendangkan nantinya. Setengah jam berlalu. Meja sudah penuh dengan botol-botol minuman juga cemilan-cemilan macam kentang goreng dsb. Aku hanya ingin bernyanyi saja, tak ada melintas dalam benakku untuk menuangkan bahkan meneguk minuman yang sedari tadi diminu...

Cerpen : Ati Ampela Ayam Favorit Ayah

 Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha Hujan membasuh Bumi Blambangan sedari sore. Mendung tampak pekat mulai siang hari sampai pada akhirnya benar-benar jatuh mengguyur. Kaca mobil Pak Fathi buram, suara wiper yang menyeka menghasilkan irama tersendiri. Sengaja Pak Fathi tidak memutar lagu apapun dari tape musik mobilnya, ia hanya ingin menikmati perjalanannya sore itu.  "Ayah udah sampai mana? Hujannya awet dari tadi ngak reda-reda". Suara Bu Indy samar-samar bersinggungan dengan suara hujan. "Baru aja keluar dari kantor Ma, ini Ayah lagi di Bundaran Tugu Pahlawan. Paling setengah jam lagi sampai rumah. Oh iya Ma, ati ampela ayam favorit Ayah udah siap kan? Hehe". Cengengesan Pak Fathi sembari menilik irama wiper mobilnya yang naik turun. "Udah dong, ini Mama lagi di dapur". "Wah pantesan aromanya kecium sampai sini, udah keroncongan banget nih perut Ayah hahaha. Yaudah Ma, Ayah mau fokus nyetir. Salam buat Genta sama Wati, bilangin jangan ada yang n...

Cerpen : Harta Warisan Ayah

Diposkan oleh Najib Fachruddin Thoha "Nulis lagi kamu Iz?" "Ngak Ma, aku nggak nulis" "Jangan bohong kamu! Itu apa buku sama pulpen" Bu Anisa merampas paksa buku tulis dan pulpen Faiz. "Harus berapa kali Mama ngelarang kamu nulis? Kamu sumbat apa telingamu itu Iz? Kamu gk mau nurut sama Mama? Mau jadi apa kamu? Mau jadi penulis? Mau minggat lenyap macam Ayah kamu itu?" Sekelebat kenangan masa lalu melintas di atas kepala Faiz. Kini ia sedang melamun sembari memandangi Sungai Nil dari dalam kamar salah satu Hotel Bintang Lima di dekat Lembah Sungai Nil. Mamanya tidak pernah menyetujuinya untuk menjadi Penulis. Kerap kali Faiz didamprat Mamanya perkara ketahuan sedang menulis seutas puisi atau sekedar mencatat catatan harian. Keluarga mereka mempunyai kenangan pilu perihal seorang Penulis. Ayah Faiz adalah seorang Cerpenis salah satu Koran Nasional. Dengan upah honor dari hasil menulis itu Pak Har bisa mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Beliau ...

LIMA ATURAN POE, CERPEN CELANA YANG KETAT

 Diposkan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA Jika anda kepingin menulis cerpen, baik juga belajar pada  Edgar Allan Poe . Ia membuat lima aturan mengenai cerpen, yang sampai sekarang pun masih dianggap berlaku. 1. Cerpen harus pendek Artinya, cukup pendek untuk dapat dibaca dalam sekali duduk. Cerpen bisa rampung dibaca sambil menunggu bis atau kereta-api, sambil antri karcis bioskop sampai didepan loket, atau sambil nongkrong di wc -  na'udzubillahi min dzalik. 2. Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik Cerpen seharusnya mengarah untuk membuat efek yang tunggal dan unik. Sebuah cerpen yang baik punya ketunggalan pikiran dan action yang bisa dikembangkan lewat sebuah garis yang langsung dari awal sampai akhir. Dalam sebuah cerpen memang tak cukup tempat untuk garis-garis sampingan, atau peristiwa-peristiwa yang bunga rampai. Itu hak yang diberikan pada novel. Cerpen tidak kebagian hak yang seperti itu. 3. Cerpen harus ketat dan padat . Cerpen harus ta...

YUK, NULIS CERPEN YUK oleh Mohammad Diponegoro

Di poskan oleh NAJIB FACHRUDDIN THOHA. Ada banyak sekali buku-buku panduan menulis. Dari menulis sastra, karya ilmiah, dll. Itu tergantung minat dan passion anda. Kalau saya sendiri lebih minat pada kepenulisan sastra. Dunia literasi ini bagai telah menyeretku, melontar-lontarkan perasaanku. Tampa bisa ku elakkan. Sastra sendiri dibagi lagi menjadi beberapa kategori. Tapi untuk kali ini saya ingin merangkum beberapa poin penting dari buku karangan Mohammad Diponegoro , dengan judul "Yuk, nulis cerpen yuk". Tujuan saya sendiri mempublikasikannya adalah untuk memudahkan ketika kembali ingin mencari refrensi dan sumber dari buku ini,tampa harus membolak-balik buku itu, dan membaca garis-garis coretanku satu persatu. Suatu saat jika bukunya hilang kan masih ada catatannya diinternet, iya gak? Dunia maya ini bisa menjadi tempat kita menyimpan data apapun itu dengan sangat aman, tanpa takut hilang. Baik itu moment-moment seperti foto, video, atau bahkan catatan kita. Langsung s...

PUING RERUNTUHAN KRAMAT TUNGGAK

PUING RERUNTUHAN KRAMAT TUNGGAK Najib Fachruddin Thoha Sejak kawasan pelacuran  Kramat Tungak ditutup pada tahun 1999, bertebaran cafe-cafe baru disekitar wilayah Jakarta Islamic Center. Di situ dapat dijumpai wanita-wanita berdandan menor bercengkrama menunggu malaikat yang diutus tuhan untuk menyelamatkan hidup mereka. Sesekali mereka menggoda lelaki yang lalu lalang. Menawarkan minuman dan kepuasan setelah ada kesepakatan harga. Tak usah risau mencari tempat melampiaskan hasrat. Tinggal menuju hotel-hotel kecil yang biasa di sewa short time. Tidak jauh, masih disekitar Jl Kramat Jaya. Cukup 5 menit untuk menuju hotel-hotel itu dengan bersepedah motor. Ini pukul 2 dini hari, sudah larut malam. Fina masih duduk termangu menungu lelaki hidung belang yang tak kunjung datang. Tidak seperti biasannya, malam itu terlampau sepi. “Kok sepi banget ya malam ini.” Ketus Fina. “Lagi disekap kali sama istri-istrinya” timpal salah seorang dari mereka. “Atau malah gk dapet alasan...